5 Rasio Keuangan Ini Wajib Diterapkan Investor Saat Memilih Saham Terbaik

The Path To Financial Freedom, EduFulus.com – Investor saham yang cerdas dan cermat pastinya tak mengabaikan dan menyepelekan yang namanya laporan keuangan dari suatu emiten. Pasalnya, dari data-data laporan keuangan tersebut dapat diketahui sehat tidaknya suatu perusahaan.

Kesehatan keuangan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam membuat keputusan dalam investasi saham. Keuangan perusahaan yang sehat menjadi sahal satu jaminan keberlangsungan suatu perusahaan. Namun tak dapat dipungkiri, membedah laporan keuangan butuh strategi jitu.

Bukan rahasia lagi, kalau tidak tidak cermat maka hanya akan dihadapkan data-data keuangan manipulatif. Pasalnya, tidak sedikit perusahaan (emiten) yang berupaya tidak transparan dan membuat laporan keuangan yang dipercantik untuk memikat investor. Oleh sebab itu, investor saham wajib cermat dan jeli.

SIMAK JUGA: Inflasi “Pencuri” Uang Kita di Tabungan

Laporan keuangan suatu emiten biasanya disampaikan secara berkala (3 bulan) ke publik. Idealnya laporan keuangan ini mencakup laporan rugi laba (income statement), neraca (balance sheet), dan laporan arus kas (cash flow).

Sesuai dengan namanya, laporan laba rugi mencerminkan posisi laba-rugi perusahaan, sementara neraca mencerminkan aset (harta) dan kewajiban (utang) yang harus dibayar perusahan, dan laporan arus kas mencerminkan alokasi dana perusahaan itu untuk apa saja.

Selanjutnya, untuk menilai dan menakar kesehatan keuangan perusahaan publik, investor tinggal mencermati rasio keuangannya. Rasio keuangan (rasio finansial) ini biasanya sudah terpampang di profil emiten yang ada di platform (aplikasi) trading platform setiap sekuritas.

Rasio keuangan mempermudah investor dalam memilih saham mana yang layak dibeli secara fundamental. Adapun rasio finansial yang dimaksud mulai dari EPS (Earning per Share), PER (Price Earnings Ratio), PBV (Price to Book Value), ROE (Return on Equity), dan DER (Debt to Equity Ratio) yang akan dibahas satu-per satu dengan rinci:

1. EPS (Earning Per Share)

Perusahaan publik yang konsisten menghasilkan laba layak dikoleksi sahamnya. Dengan kata lain, menghindari dan menjauhi emiten yang merugi adalah langkah cerdas dalam investasi saham. Nah, untuk melihat besarnya laba perusahaan per saham bisa digunakan Rasio EPS. Pada dsarnya semakin besar angka EPS berarti laba perusahaan semakin baik. Namun demikian, EPS yang tinggi tidak selalu mencerminkan laba perusahaan yang besar karena hal itu juga bisa dipengaruhi oleh sedikitnya jumlah saham yang beredar. Oleh sebab itu, selain EPS, sangat disarankan untuk membandingkan dengan rasio analisis fundamental lainnya. Adapun rumus Earning Per Share = (Laba bersih – Pajak – Dividen)/Jumlah Saham Beredar.

2. PER (Price Earnings Ratio)

Sebagai turunan dari EPS, PER menunjukkan perbandingan harga saham sekarang dengan laba bersih perusahaan per lembar sahamnya (EPS). PER ini penting karena memberikan informasi terkait nilai wajar suatu perusahaan. PER yang rendah kerap memikat investor untuk segera mengoleksinya karena PER yang rendah menunjukkan laba yang tinggi bila dibandingkan dengan harga sahamnya. Adapun rumus PER = Harga Saham Terakhir/EPS.

3. PBV (Price to Book Value)

Investor yang cerdas akan memadukan penggunaan PBV untuk menentukan nilai wajar sebuah saham dengan rasio lainnya seperti PER. Pada dasarnya, PBV juga ditujukan untuk menentukan nilai wajar suatu saham. Adapun rumus PBV = Harga Saham Terakhir/Nilai buku per lembar sahamnya. Book value adalah nilai ekuitas per lembar sahamnya.

4. ROE (Return on Equity)

Perusahaan yang asal menghasilkan laba saja tidak cukup. Emiten yang layak dikoleksi sahamnya yaitu perusahaan yang juga memiliki laba yang tumbuh. Untuk menilai pertumbuhan laba ini, rasio keuangan yang biasa digunakan adalah ROE. Secara historis, perusahaan yang menguntungkan adalah perusahaan yang memiliki ROE tinggi. Investor yang cerdas tentunya memilih perusahaan yang memiliki ROE yang tinggi. ROE tinggi mencerminkan keefektifan suatu perusahaan dalam mengelola modalnya sehingga bisa menghasilkan laba yang besar. Adapun rumus ROE = Laba bersih/Total Ekuitas.

5. DER (Debt to Equity Ratio)

Memiliki utang besar itu beban. Begitu juga dengan emiten yang memiliki utang besar punya kewajiban membayar bunga dan pokok utangnya. So, mengetahui rasio total utang dihadapkan dengan total aset perusahaan itu sangat penting. Jangan sampai investor terjebak membeli saham dari perusahaan yang memiliki utang besar. Nah, untuk mengecek utang perusahaan bisa digunakan rasio DER. Nilai DER rendah berarti perusahaan tersebut sehat. Adapun rumus DER=Total Utang/Total Ekuitas.

SIMAK JUGA: 10 Tips Memilih Sekuritas Masa Kini yang Terbaik

Rasio-rasio dalam analisis fundamental yang biasanya sudah tersedia di trading platform masing-masing sekuritas ini sangat membantu investor dalam menganalisis suatu perusahaan tanpa perlu membaca laporan keungannya satu per satu alias njelimet. Rasio keuangan membantu investor memilih saham yang benar-benar bakal mendatangkan cuan. Rasio-rasio keuangan ini memudahkan investor dalam memilih saham-saham terbaiknya.

SIMAK JUGA: 4 Tips Cerdas Meminimalkan Risiko dalam Investasi Saham




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*