ETF Pasif Vs ETF Aktif, Seperti Apa Perbedaannya?

 Reksa dana Exchange Traded Fund (ETF)
Reksa dana Exchange Traded Fund (ETF) (EduFulus/GWK)

The Path To Financial Freedom, EduFulus.com – Reksa dana Exchange Traded Fund (ETF) tumbuh signifikan di Indonesia. Sejak pertama kali muncul di Indonesia pada 2007 lalu, jenis reksa dana terbuka berbentuk kontrak investasi kolektif yang unit penyertaanya dicatatkan dan diperdagangkan di bursa seperti halnya saham ini terus berkembang.

Bermula dari ETF Indeks LQ45 yang kinerjanya mereplikasi pergerakan Indeks LQ45, Jumlah ETF di Indonesia saat ini terus bertambah menjadi 48 produk yang aktif ditransaksikan.

Sebanyak 48 produk ETF itu pun dibedakan menjadi dua kriteria berdasarkan cara pengelolaannya yakni ETF Pasif dan ETF Aktif. Dari 48 produk ETF tersebut ada 36 ETF pasif dan 12 ETF aktif.

SIMAK JUGA: Reksa Dana ETF Makin Marak, Apa Itu ETF dan Bagaimana Cara Belinya?

Pertumbuhan signifikan ini sejalan dengan minat investor institusi dan ritel yang menginginkan alternatif untuk diversifikasi investasi yang nggak ribet. ETF pun jadi pilihannya dengan sejumlah keunggulannya mulai dari efisien, transparan dan fleksibel.

ETF ini memang cocok untuk investor pemula (Newbie) yang menginginkan investasi saham, tapi bingung untuk memulainya. Selain masih bingung, tidak sedikit yang sebenarnya tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan analisis sahamnya satu per satu.

Kehadiran produk ETF menjadi jawaban untuk kerinduan investor yang masih gamang masuk saham, tidak punya banyak waktu karena kesibukan kerjaan hingga karena sadar diri belum punya ilmu yang cukup untuk masuk ke saham.

Lantas seperti apa karakteristik dari ETF pasif dan ETF aktif yang dikatakan cocok untuk mereka ini? Berikut ini penjelasannya:

ETF Pasif

Kebanyakan ETF yang ada di Indonesia memang ETF pasif dengan jumlah produknya mencapai 36 dari keseluruhan ETF di Indonesia yakni sebanyak 48 produk. Sesuai dengan namanya yakni pasif, ETF ini mengacu pada indeks tertentu, semisal untuk ETF Indeks LQ45 yang mengikuti atau mereplikasi pergerakan Indeks LQ45.

Karena ETF pasif ini akan mengikuti indeksnya makanya boleh dikata cenderung lebih aman. hal begini membuat ETF ini bergerak lebih lambat. Tak mengherankan kalau jenis ini ada yang menyebutnya sebagai semacam “kloning return” pada indeks tertentu. Karakteristik pasif di sini tidak memiliki tujuan menggungguli indeks acuan. ETF pasif berupaya mereplikasi dan menyamai indeks.

EFF Aktif

Jumlah ETF aktif di Indonesia saat ini ada 12 dari total 48 ETF di Indonesia. Karena sifatnya aktif makanya ada Fund Manager atau tim khusus yang mengelola alokasi portofolionya dengan tujuan mengalahkan indeks acuannya. Kata aktif menyiratkan harapan dan keinginan untul mendapatkan return yang lebih dari indeks replikasinya.

ETF Aktif ingin mengungguli (outperform) market hingga indeks acuannya. ETF aktif ingin mengalahkan indeksnya. Karena sifat dasarnya aktif makanya lebih fluktuatif, sehingga dari sisi risiko cenderung lebih berisiko dibanding yang pasif. Bertitik tolak pada prinsip dasar dalam investasi yakni high risk high return makanya dari sisi portensi cuannya juga lebih menguntungkan.

Nah, untuk menikmati baik ETF pasif maupun ETF aktif, investor tinggal mentransaksikannya di Pasar Primer (Primary Market) untuk investor dengan modal gede seperti institusi atau di Pasar Sekunder (Secondary Market) untuk investor retail. Transaksi Pasar Primer maupun Pasar Sekunder bisa dilakukan dengan mudah dan cepat di saat jam bursa.

SIMAK JUGA: 4 Isi Fund Fact Sheet Ini Wajib Dicermati Sebelum Kamu Investasi Reksa Dana




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*