Lanskap Perkembangan Pasar Modal Indonesia di Masa Pemulihan Pandemi Covid-19

Harga-harga saham saat trading halt karena covid-19 (Corona) 2020
Harga-harga saham saat trading halt karena covid-19 (Corona) 2020 (EduFulus/GWK)

The Path To Financial Freedom, EduFulus.comĀ – Kinerja Bursa Efek Indonesia (BEI) di tahun 2020 cukup menggairahkan kendati masih ada tekanan pandemi Covid-19. Pada November 2020 lalu, nilai Transaksi efek terus menerus berada di kisaran 8 hingga 12 triliun per hari. Hal ini sekaligus menjadikan rekor transaksi harian tertinggi di BEI.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno Djajadi mengungkapkan ada beberapa hal yang menurutnya memengaruhi lonjakan transaksi ini, khususnya di masa pandemi Covid-19 dan mengapa tetap perlu mengelola ekspektasi perkembangan pasar di 2021 ini.

Tahun 2021 ini merupakan tahun yang penuh dengan harapan pemulihan ekonomi. hal ini tercermin dari tingginya aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam tiga bulan terakhir.

SIMAK JUGA: Ini Lho Langkah Mudah Ikut e-IPO Bursa Efek Indonesia (BEI)

Ia mencatat tingginya aktivitas transaksi dan merupakan rekor baru sejak swastanisasi bursa efek di tahun 1992, diantaranya yaitu:

  • Rata-rata nilai perdagangan harian yang mencapai lebih dari Rp13 triliun per hari atau melonjak 2 kali lipat dalam lima tahun terakhir,
  • Terdapat juga lonjakan frekuensi transaksi yang mencapai rata-rata 1,2 juta transaksi per hari dan merupakan yang tertinggi di kawasan ASEAN dalam tiga tahun terakhir. Hal ini turut diikuti dengan lonjakan volume perdagangan yang mencapai lebih dari 18 miliar lembar saham per hari.

Lompatan transaksi ini tentu merupakan hal yang sangat luar biasa dan ini hanya dapat terjadi dengan dukungan dan peran dari seluruh stakeholders. Di sisi lain, BEI bersama dengan SRO (KPEI dan KSEI) terus memberi perhatian besar terhadap kelangsungan infrastruktur perdagangan, sehingga mampu melayani besarnya kebutuhan transaksi dari seluruh kalangan investor.

Lonjakan transaksi perdagangan sepanjang tahun 2021 dipengaruhi oleh tren positif pertumbuhan investor pasar modal. Ia melihat pesatnya pemanfaatan teknologi di masa new normal telah memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan investor dalam setahun terakhir.

Dalam hal peningkatan jumlah investor, hingga akhir Mei 2021 jumlah investor telah mencapai lebih dari 2,4 juta Investor saham dan 5,37 juta investor pasar modal. Dengan kata lain, terdapat peningkatan sebesar 42% untuk investor saham dan 38% untuk Investor Pasar Modal dari angka akhir tahun 2020. Rata-rata jumlah investor yang aktif bertransaksi hingga akhir Mei mencapai 203 ribu investor per hari atau tumbuh 113% dari rata-rata tahun sebelumnya.

Kemudian, jika dilihat dari jumlah kepemilikan investor, tahun 2020 menjadi tahun kebangkitan investor domestik, terutama investor ritel Indonesia. Investor ritel membukukan aktivitas transaksi yang besar, yakni mencapai 48,4% dari total rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp9,2 triliun di tahun 2020. Persentase ini melonjak untuk pertama kalinya di atas 40% dalam 5 tahun terakhir. Dan ini berlanjut di tahun 2021 dimana dominasi investor ritel semakin terlihat dengan porsi mencapai hampir 60% per akhir Mei 2021.

SIMAK JUGA: 5 Langkah Mudah Cek Bukti Transaksi dan Laporan Bulanan Reksa Dana Secara Online di AKSes KSEI

Dari sisi supply, sampai dengan awal Juni 2021 telah terdapat 17 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa dengan nilai fund raised mencapai Rp3,47 triliun. Pertumbuhan positif tren pencatatan ini telah menghantarkan jumlah perusahaan di bursa mencapai 729 perusahaan.

Selanjutnya, jika dibandingkan dengan IPO pada bursa ASEAN lainnya, Indonesia juga masih menjadi bursa dengan jumlah IPO terbanyak.

Berdasarkan data EY Global IPO Trend report, Indonesia masih masuk ke dalam 10 besar aktivitas pencatatan saham tertinggi di dunia selama 3 tahun berturut-turut, 2018-2020. Sementara itu, menurut laporan periode Q1 2021, jumlah IPO Indonesia masih tertinggi diantara bursa ASEAN. Pertumbuhan ini diharapkan masih dapat berjalan dengan positif di tahun 2021, karena saat ini terdapat 22 calon perusahaan tercatat yang masih dalam proses melakukan penawaran umum.

Mengenai prospek IPO Startup, saat ini kami sedang melakukan diskusi intens dengan OJK dan stakeholder untuk merumuskan regulasi yang memungkinkan para Startup tersebut melakukan IPO.

Dalam upaya memperluas layanan produk kebursaaan, BEI bersama SRO dan OJK terus melakukan pengembangan produk baru serta penyempurnaan produk yang dapat ditawarkan kepada masyarakat pemodal. Dapat dilihat bahwa terdapat berbagai macam produk pasar modal yang dapat dijadikan sumber investasi masyarakat dan salah satunya adalah produk ETF atau exchange traded fund.

SIMAK JUGA: Investasi Reksa Dana dan Saham Sejak Dini Bisa Usir Momok Masa Pensiun

Singkat kata, ETF adalah Reksa Dana yang diperdagangkan di Bursa, dengan salah satu keunggulan utama adalah settlement T+2, jauh lebih cepat dari durasi Subscription/Redemption Reksa Dana produk konvensional.

Dengan serangkaian inisiatif dan dukungan pelaku pasar dan OJK, produk ETF telah mengelami perkembangan yang pesat hingga tahun 2021 ini. Sejak tahun 2011, jumlah produk ETF yang terdapat di BEI terus mengalami peningkatan dan hingga awal Juni 2021 telah terdapat 47 ETF yang terdapat pada BEI.

Untuk terus memperkuat layanan dan menjaga momentum pertumbuhan Pasar Modal Indonesia, BEI bersama OJK dan SRO, telah meluncurkan serangkaian inisiatif strategis di tahun 2020, salah satu inisiatif tersebut termasuk dengan Revitalisasi Perdagangan di pasar ETF. Seluruh inisiatif ini bertujuan untuk terus melakukan pendalaman pasar modal, penguatan layanan kepada calon perusahaan, perluasan infrastruktur perdagangan untuk pasar obligasi, serta penguatan infrastruktur keterbukaan informasi, dalam rangka meningkatan perlindungan investor pasar modal Indonesia.

BEI bersama OJK juga telah menyelesaikan Road Map Pasar Modal Syariah untuk lima tahun depan, sebagai upaya penguatan dan pendalaman pasar modal berbasis syariah di Indonesia.

Sementara di 2021 ini, BEI memiliki fokus untuk meningkatkan pendalaman pasar modal, yang diikuti dengan peningkatan efisiensi proses dan transparansi. Beberapa inisiatif utama yang dilakukan meliputi misalnya pengembangan pengaturan untuk mengakomodir IPO dari calon perusahaan teknologi besar, kemudian pengembangan portal edukasi investor, penyempurnaan mekanisme perdagangan (pre-closing, market order, periodic order), optimalisasi sistem pengawasan transaksi perdagangan, pengembangan sistem colocation anggota bursa, sampai dengan optimalisasi layanan SPPA dan rencana peluncuran produk baru sebagai wahana kebutuhan transaksi investor di pasar modal.

Pengembangan-pengembangan ini tentunya bertujuan untuk mengembangkan industri pasar modal yang lebih baik dan semakin terpercaya, teratur, wajar dan efisien.

SIMAK JUGA: Kelemahan dan Kekurangan Aplikasi Bibit Besutan PT Bibit Tumbuh Bersama




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*