The post Fakta atau Hoax: Market Saham di Desember Selalu Bullish appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Untuk memahami apakah Desember cenderung bullish, kita perlu melihat beberapa faktor yang memengaruhi pasar saham, baik berdasarkan data historis maupun kondisi pasar saat itu.
SIMAK JUGA: Mitos Desember Selalu Bullish di Pasar Saham
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi apakah pasar saham pada bulan Desember cenderung bullish (naik) atau tidak:
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pasar saham seringkali mengalami kenaikan pada akhir tahun, terutama antara Hari Natal dan Tahun Baru. Fenomena ini dikenal sebagai “Santa Claus Rally.”
Penyebabnya bisa beragam, termasuk perayaan liburan, optimisme investor, serta rebalancing portofolio menjelang tahun baru.
Secara historis, Desember sering kali menjadi bulan yang baik untuk pasar saham karena faktor-faktor seperti bonus akhir tahun, peningkatan konsumsi, dan pengaruh psikologis liburan yang mengarah pada sentimen positif.
Banyak investor institusional melakukan rebalancing portofolio pada akhir tahun untuk menyesuaikan dengan kinerja pasar atau pajak. Hal ini bisa menyebabkan peningkatan permintaan saham di Desember.
Banyak investor dan analis juga memanfaatkan akhir tahun untuk menilai kinerja tahunan dan memperkirakan kinerja pasar di tahun berikutnya, yang dapat meningkatkan optimisme di pasar saham.
Meskipun ada kecenderungan bullish di bulan Desember, kondisi ekonomi yang buruk, ketidakpastian geopolitik, atau faktor luar biasa lainnya bisa menekan pasar.
Pasar saham tidak selalu mengikuti pola musiman, dan ada banyak faktor yang dapat menyebabkan pasar tidak bullish meskipun secara historis cenderung demikian.
Tidak ada jaminan bahwa pasar saham akan selalu mengalami kenaikan di Desember. Misalnya, pada beberapa tahun tertentu, Desember justru bisa menjadi bulan yang lemah untuk pasar saham, tergantung pada kondisi pasar dan sentimen investor.
Meskipun ada data historis yang menunjukkan kecenderungan pasar saham untuk bullish di bulan Desember, hal ini bukanlah sesuatu yang pasti.
Pergerakan pasar saham sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang lebih kompleks, seperti kondisi ekonomi global, kebijakan moneter, serta faktor geopolitik yang dapat mempengaruhi sentimen investor.
Jadi, klaim bahwa Desember selalu bullish untuk saham bisa dianggap sebagai hoax jika dilihat dari perspektif yang lebih luas, karena tidak ada jaminan bahwa pasar akan selalu naik di bulan tersebut.
SIMAK JUGA: Apa Itu Window Dressing, Cara Kerja, Tip Ambil Untung dan Waspadai Risiko Manipulasi Pasar
*Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika ada yang tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Fakta atau Hoax: Market Saham di Desember Selalu Bullish appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Mitos Desember Selalu Bullish di Pasar Saham appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Meskipun ada data historis yang menunjukkan adanya tren positif di bulan Desember, penting untuk memahami bahwa ini bukanlah sebuah kepastian dan tidak selalu terjadi setiap tahun.
SIMAK JUGA: 5 Alokasi Uang THR Natal di Tengah Pandemi Covid-19
Berikut adalah beberapa alasan mengapa mitos Desember selalu bullish tidak sepenuhnya benar:
Meskipun dalam beberapa tahun terakhir kita melihat pasar saham mengalami kenaikan di akhir tahun, fenomena Santa Claus Rally tidak terjadi setiap tahun.
Terkadang, faktor ekonomi yang buruk atau ketidakpastian global bisa mempengaruhi pasar, yang menyebabkan saham turun bahkan di bulan Desember.
Contohnya, pada 2018, pasar saham global mengalami penurunan signifikan pada akhir tahun meskipun ada harapan optimis yang biasa muncul pada periode tersebut.
Keadaan pasar saham sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang jauh lebih besar dari sekedar musim atau waktu dalam setahun.
Kebijakan moneter, inflasi, ketegangan geopolitik, atau bahkan ketidakpastian ekonomi bisa berdampak besar pada pergerakan harga saham.
Jika ada krisis ekonomi, perang, atau perubahan mendalam dalam kebijakan fiskal atau moneter, pasar saham bisa tertekan bahkan pada bulan Desember, meskipun secara historis bulan tersebut cenderung lebih baik.
Selama liburan akhir tahun, volume perdagangan seringkali lebih rendah karena banyak investor institusional dan individu yang mengambil cuti atau beristirahat.
Dengan volume perdagangan yang lebih rendah, pasar saham bisa menjadi lebih volatile, yang berarti harga bisa bergerak lebih tajam dan tidak selalu mencerminkan tren positif
Kondisi ini bisa membuat pasar tidak selalu bullish di Desember.
Di akhir tahun, banyak investor yang melakukan rebalancing portofolio untuk menyesuaikan alokasi aset mereka menjelang tahun baru, atau melakukan tax loss harvesting, yaitu menjual saham yang merugi untuk mengurangi beban pajak.
Ini bisa menyebabkan pergerakan pasar yang tidak selalu mengarah pada kenaikan harga saham.
Terkadang, pergerakan saham lebih dipengaruhi oleh strategi perpajakan dan penyesuaian portofolio ketimbang faktor musiman.
Pasar saham dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal yang tidak bisa diprediksi dengan pasti. Meskipun Desember sering kali menunjukkan pola bullish di masa lalu, tidak ada jaminan bahwa pola ini akan terus berlanjut setiap tahun.
Misalnya, pasar bisa dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga, penurunan profit perusahaan, atau krisis keuangan yang mengurangi minat investor untuk membeli saham.
2018: Pada tahun 2018, pasar saham mengalami penurunan besar di bulan Desember, terutama pada indeks S&P 500 yang jatuh lebih dari 9%.
Penurunan ini disebabkan oleh kekhawatiran atas kebijakan suku bunga yang ketat dari Federal Reserve AS, serta ketidakpastian perdagangan antara AS dan China. Meskipun biasanya ada kecenderungan bullish, Desember 2018 justru mengalami penurunan signifikan.
2022: Tahun 2022 juga menjadi contoh bahwa Desember tidak selalu bullish, dengan banyak saham mengalami penurunan akibat kekhawatiran terhadap inflasi tinggi dan suku bunga yang naik.
Meskipun ada kecenderungan historis bahwa Desember sering kali mengalami rally atau kenaikan pasar saham, hal ini bukanlah aturan yang pasti.
Faktor-faktor ekonomi, politik, dan kebijakan lainnya sangat mempengaruhi pergerakan pasar, dan tahun-tahun tertentu dapat membuktikan bahwa Desember bisa menjadi bulan yang bearish (turun) bagi saham.
Oleh karena itu, mitos bahwa Desember selalu bullish tidak sepenuhnya benar dan harus dipertimbangkan dengan hati-hati.
SIMAK JUGA: Tip Mengeruk Cuan Window Dressing Saat Akhir Tahun
*Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika ada yang tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Mitos Desember Selalu Bullish di Pasar Saham appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Kenali Apa Itu Saham, Jenis-jenisnya dan Cara Meningkatkan Profit Secara Efektif appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Artikel ini akan membahas tentang definisi saham, jenis-jenisnya, serta berbagai cara yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keuntungan dari investasi saham yang dilakukan.
Saham merupakan surat berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan seseorang dalam suatu perusahaan. Dengan memiliki saham, seorang investor secara tidak langsung memiliki sebagian kecil aset dan pendapatan perusahaan tersebut.
SIMAK JUGA: Apa Itu Saham Pre-Opening? Kok Hanya 45 Saham Doang!
Saham diperdagangkan di bursa efek seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), dan harga sahamnya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kinerja perusahaan dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Untuk memperdalam pemahaman, berikut adalah beberapa jenis saham yang sering diperdagangkan di pasar:
Jenis saham yang memberikan pemegangnya hak suara dalam rapat umum pemegang saham serta kesempatan untuk memperoleh dividen.
Saham yang memberi hak lebih dalam pembayaran dividen, namun tidak memberikan hak suara dalam rapat pemegang saham.
Saham dari perusahaan besar yang sudah stabil dan memiliki rekam jejak yang baik dalam membayar dividen serta menghasilkan laba.
Saham perusahaan yang diprediksi akan mengalami pertumbuhan pesat dalam waktu dekat.
Saham yang secara rutin membagikan dividen kepada pemegangnya, sehingga menjadi pilihan bagi investor yang menginginkan penghasilan pasif.
Meningkatkan profit dari saham tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dibutuhkan strategi dan pengetahuan pasar yang baik. Berikut adalah beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan profit dari investasi saham:
Sebelum memutuskan untuk membeli saham suatu perusahaan, sangat penting untuk menganalisis kondisi fundamental perusahaan tersebut. Ini termasuk:
Analisis teknikal adalah metode yang menggunakan data harga dan volume perdagangan saham untuk memprediksi pergerakan harga di masa depan. Berikut beberapa alat yang sering digunakan:
Diversifikasi adalah strategi yang digunakan untuk menyebarkan risiko dengan cara membeli berbagai jenis saham di sektor yang berbeda. Ini akan mengurangi kemungkinan kerugian besar jika satu sektor mengalami penurunan.
Misalnya, bisa membeli saham dari perusahaan yang bergerak di sektor teknologi, kesehatan, energi, dan sebagainya. Dengan diversifikasi yang baik, meski ada sektor yang turun, sektor lainnya bisa memberi hasil yang positif.
Saham yang rutin membayar dividen dapat menjadi sumber pendapatan pasif. Beberapa perusahaan memberikan dividen secara teratur kepada pemegang sahamnya, biasanya setiap kuartal atau tahunan.
Dividen ini bisa digunakan sebagai tambahan pendapatan, yang dapat diinvestasikan kembali untuk memperoleh lebih banyak saham atau digunakan untuk kebutuhan lainnya.
Waktu yang tepat untuk membeli dan menjual saham sangat mempengaruhi hasil investasi. Berikut adalah beberapa strategi yang dapat digunakan:
Pasar saham dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, serta perubahan dalam industri tertentu. Selalu perbarui informasi terkait kondisi pasar untuk membuat keputusan yang lebih cerdas.
Membaca berita ekonomi, laporan keuangan, dan analisis pasar dapat memberikan wawasan tentang pergerakan harga saham dan membantu merespons dengan cepat terhadap perubahan pasar.
Setiap investasi pasti memiliki risiko, termasuk saham. Oleh karena itu, penting untuk mengelola risiko dengan baik, antara lain dengan strategi cut loss, yaitu menjual saham ketika harga turun di bawah harga beli untuk mencegah kerugian lebih besar.
Selain itu, pastikan untuk tidak menginvestasikan seluruh dana pada satu saham atau satu sektor, guna meminimalkan dampak kerugian.
So, investasi saham adalah cara yang sangat baik untuk meningkatkan kekayaan, tetapi memerlukan strategi yang matang dan pengetahuan yang cukup. Jangan lupa untuk selalu melakukan riset yang menyeluruh serta pantau pasar secara berkala untuk mengelola risiko dan memaksimalkan hasil investasi.
Investasi cerdas dimulai dengan pengetahuan yang baik dan perencanaan yang matang.
SIMAK JUGA: Apa Itu Window Dressing, Cara Kerja, Tip Ambil Untung dan Waspadai Risiko Manipulasi Pasar
*Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika ada yang tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Kenali Apa Itu Saham, Jenis-jenisnya dan Cara Meningkatkan Profit Secara Efektif appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Inilah Daftar Lengkap Saham-saham Penghuni Indeks IDX30 Periode Agustus 2023 Hingga Januari 2024 appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Dalam daftar saham IDX30, BEI hanya memasukkan satu saham baru yakni PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). Masuknya emiten yang bergerak di sektor energi ini diikuti dengan terdepaknya PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).
IDX30 mengacu pada indeks harga saham 30 perusahaan terbesar yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks ini mencakup 30 saham perusahaan dengan kapitalisasi pasar tertinggi dan likuiditas yang tinggi. Saat berinvestasi di saham, indeks seperti IDX30 digunakan sebagai ukuran kinerja pasar saham secara keseluruhan atau sektor tertentu.
SIMAK JUGA: Inilah Daftar Lengkap Saham Indeks IDX30 Periode Februari 2023-Juli 2023
Lantas mana saja saham-saham yang masuk daftar saham IDX30 periode periode Agustus 2023 Hingga Januari 2024? Berikut ini daftar lengkapnya:
Apa itu Indeks IDX30?
Indeks IDX30 dalam saham mengacu pada indeks harga saham yang terdiri dari 30 perusahaan terbesar dan paling likuid yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks ini bertujuan untuk merepresentasikan kinerja pasar saham secara keseluruhan dengan menggambarkan pergerakan harga saham dari sekelompok perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar dan likuiditas yang tinggi.
Pemilihan perusahaan yang masuk dalam indeks IDX30 didasarkan pada kriteria tertentu, seperti kapitalisasi pasar, frekuensi perdagangan, dan likuiditas saham. Perusahaan-perusahaan yang masuk dalam indeks ini biasanya merupakan pemain utama di pasar dan memiliki dampak yang signifikan pada pergerakan harga saham di pasar.
Indeks IDX30 berfungsi sebagai indikator kinerja pasar saham secara keseluruhan dan dapat digunakan oleh para investor untuk memantau tren dan pergerakan harga saham di Indonesia. Selain itu, indeks ini juga menjadi acuan bagi para pelaku pasar untuk mengevaluasi kinerja portofolio investasi mereka dalam membandingkan dengan kinerja pasar secara keseluruhan.
Komposisi indeks dapat berubah dari waktu ke waktu karena fluktuasi nilai pasar dan likuiditas perusahaan, teristimewa rebalancing atau perombakan penghuni. Perusahaan baru akan ditambahkan atau perusahaan yang ada dapat dihapus dari indeks IDX30.
Manfaat Indeks IDX30
SIMAK JUGA: Inilah Daftar Lengkap Saham-Saham IDX30 Periode Agustus 2021-Januari 2022
The post Inilah Daftar Lengkap Saham-saham Penghuni Indeks IDX30 Periode Agustus 2023 Hingga Januari 2024 appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Inilah Saham-saham di Indeks LQ45 Periode Agustus 2023 Hingga Januari 2024, Apa Itu Indeks LQ45? appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Dua saham baru yang masuk dalam indeks LQ45 adalah PT Gudang Garam Tbk (GGRM), perusahaan rokok, dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Kedua saham tersebut menggantikan posisi PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) dan salah satu saham dari perusahaan milik negara, yaitu PT Timah Tbk (TINS), yang sebelumnya menjadi anggota indeks.
SIMAK JUGA: Inilah Daftar Lengkap Saham Indeks LQ45 Periode Februari 2023-Juli 2023
Daftar lengkap saham yang menjadi anggota indeks LQ45 periode Agustus 2023 hingga Januari 2024 adalah sebagaimana diumumkan oleh Bursa Efek Indonesia dalam Pengumuman No. Peng-00190/BEI.POP/07-2023, dan perubahan ini akan berlaku mulai 1 Agustus 2023.
Indeks LQ45 (LQ45 Index) adalah salah satu indeks saham yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengukur performa sekelompok saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar yang besar. Indeks ini mencakup 45 saham perusahaan yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu.
Kriteria pemilihan saham-saham yang masuk dalam indeks LQ45 adalah sebagai berikut:
Indeks LQ45 digunakan sebagai acuan untuk melacak kinerja pasar saham secara keseluruhan dan sebagai basis untuk pengembangan berbagai produk investasi seperti indeks pasar berjangka dan dana indeks. Saham-saham dalam indeks LQ45 sering dianggap sebagai saham-saham blue-chip atau saham-saham unggulan yang mewakili sebagian besar kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia.
SIMAK JUGA: Dirombak! Inilah Daftar Lengkap Saham-Saham LQ45 Periode Agustus 2021-Januari 2022
The post Inilah Saham-saham di Indeks LQ45 Periode Agustus 2023 Hingga Januari 2024, Apa Itu Indeks LQ45? appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Ini Alasan Kenapa Kamu Sebaiknya Investasi Saham Blue Chip appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Di satu sisi memilih saham blue chip adalah salah satu cara untuk meminimalisir kerugian, tetapi di sisi lain justru dimaksudkan untuk memaksimalkan cuan.
Memilih saham blue chip sama artinya dengan memilih saham dari perusahaan terpercaya dengan risiko kerugian yang rendah, teristimewa tatkala bicara soal pailit atau bangkrut.
Dikutip dari Investopedia, “A blue-chip company is well-known, well-established, and well-capitalized”. Saham blue chip adalah saham dari perusahaan yang sudah terkenal, mapan, bermodal besar, dan sehat secara finansial.
Nah, sebagai penggerak utama arah IHSG, saham-saham blue chip ini tentunya saham-saham dengan kapitalisasi atau nilai saham yang besar. Tak hanya kapitalisasi yang besar, saham-saham blue chip berasal dari perusahaan terkemuka atau leader di sektornya dengan kualitas yang diakui secara nasional maupun internasional. Produk dan layanannya biasanya berkualitas tinggi dan sudah diterima secara luas.
Dengan begitu, memilih saham-saham blue chip sama artinya memilih saham-saham yang relatif tahan banting karena secara riil perusahaannya terus menghasilkan pendapatan dan mengalami pertumbuhan signifikan dari waktu ke waktu, tak sebatas hanya setahun atau dua tahun saja.
Para analis saham menyebut saham ini dengan sebutan saham papan atas atau saham unggulan. Karenanya, tentu akan jauh lebih besar potensi untungnya dari pada ruginya saat saham ini dibeli.
Tak hanya potensi cuan, saham blue chip memiliki nilai dividen besar yang bakal memanjakan investor. Dividen yang diterima untuk jangka panjang sesuai rekomendasi para analis untuk untuk investasi jangka panjang dan menengah juga cukup menjanjikan.
Kemampuan memberi dividen setiap tahun menjadi penanda kalau perusahaan tersebut mampu menghasilkan laba yang maksimal setiap tahunnya. Bahkan, Benjamin Graham mengungkapkan bahwa investor sebaiknya memilih saham dari perusahaan yang membayar dividen secara konsisten selama 20 tahun terakhir.
Stabilitas dan kekuatan laporan keuangan saham-saham blue chip membuka peluang cuan lebih besar pada pendapatan pasif yang hampir tidak pernah dalam bahaya. So, sudahkah investasi saham-saham blue chip?
The post Ini Alasan Kenapa Kamu Sebaiknya Investasi Saham Blue Chip appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Tip Investasi dan Trading Saham Saat Market Sedang Rontok appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Kalau investor lebih ke orientasi jangka panjang dalam mendulang cuannya, sementara itu trader mencari cuan dalam jangka waktu pendek. Namun satu hal yang tak boleh diabaikan baik oleh invetor maupun trader saham saat menghadapi market yang sedang gonjang-ganjing (volatile) adalah tidak gampang baper dan panik dalam membuat keputusan.
SIMAK JUGA: Kenali Support dan Resistance Saham, Emangnya Buy, Sell dan Hold Itu Gampang?
Keputusan terkait saham harus diputuskan dalam kondisi psikologi yang tenang dan nggak asal ambil keputusaj jual atau beli. Nah, tindakan seperti apa saja yang sebaiknya dilakukan baik itu investor atau trader saat menghadapi market yang lagi volatile?
Saat menghadapi kondisi market yang lagi volatile, investor yang bijak adalah mereka yang tidak gampang baper dan panik hingga takut yang berlebihan. Mereka yang bijak adalah mereka yang secara psikologi tak gampang terpengaruh dengan fluktuasi market. Pun saat saham yang dimiliki jeblok atau turun tajam mereka ini tidak berpikir rugi hingga akhirnya merealiasikan kerugian dengan menjual sahamnya.
Patut disadari bahwa yang namanya market itu memang naik-turun. Kalau pun ada penurunan maka perurunan itu ada ujungnya dan setelah itu kembali naik atau rebound. Sebagai investor yang memiliki tujuan investasi yang jelas dan jangka panjang maka memegang tujuan ini sangat penting biar nggak gampang terpengaruh gonjang-ganjing market. Baper dan panik yang berlebihan akan mengarahkan investor pada kesalahan fatal dalam membuat keputusan atas investasinya, seperti menjual sahamnya dalam kondisi rugi hanya karena ketakutan.
Dalam ketenangan pikiran yang melihat kondisi market yang fluktuatif sebagai hal yang normal dan alami maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis saham secara komprehensif baik dari sisi fundamental maupun teknikal. Untuk melakukan analisis ini pun tak sesulit kayak di masa lalu, semisal dengan aplikasi IPOT milik Indo Premier Sekuritas. Analisis fundamental bisa dilakukan dengan mudah karena data-data keuangan untuk melakukan analisis pada saham tertentu mudah didapatkan. Selanjutnya, untuk melakukan analisis teknikal maka chart yang komprehensif bisa dilakukan dengan mudah.
Hal penting lainnya adalah mengecek lagi tujuan investasi. Seandainya tujuan investasi untuk yang jangka waktu pencapaiannya sifatnya jangka panjang maka ada baiknya investasinya ditahan dulu. Apalagi setelah dianalisis, potensi cuannya untuk jangka panjang bagus maka pada saat harganya turun atau jeblok ini sebaiknya dianggap sebagai saat diskon untuk mengoleksi sahamnya lagi. Namun untuk yang terakhir ini wajib melihat budget. Jangan karena harga saham lagi turun atau diskon maka bisa borong saham tanpa pikir panjang.
Senjata paling utama saat menghadapi saham-saham yang sedang rontok karena market yang sedang volatime adalah tidak baper dan panik, tetapi justru dengan tangkas melakukan analisis fundamental dan teknikal. Analisis yang komprehensif penting untuk melihat potensi saham yang dimiliki atau diincar. Usahakan kamu tidak terpengaruhi emosi saat mengabil keputusan dalam trading.
Seperti diketahui, di satu sisi saat saham sedang turun, ini adalah kesempatan emas untuk mengoleksinya atau melakukan aksi buy. Kendati demikian, keputusan mengoleksi ini tentu tidak berlaku untuk semua saham yang sedang turun. Oleh sebab itu, analisis fundamental dan teknikal penting dilakukan untuk melihat saham yang sedang turun. Hal ini sangat penting untuk melihat potensi balik arah dari saham ini di masa depan. Analisis fundamental terkait erat dengan lapaoran keuangan emiten, sedangkan analisis teknikal menyangkut support dan resistance saham yang memungkinan trader melakukan aksi buy dengan tepat.
Pada saat saham-saham sedang rontok, penting bahwa trader selalu menjaga disiplin dalam melakukan cut loss. Jika tidak disiplin maka kerugiannya justru akan semakin dalam. So, kendati menyakitkan, cut loss atau stop loss itu wajib dilakukan, teristimewa saat sahamnya memang benar-benar downtrend.
Namun jika belum sempat melakukan cut loss karena melihat potensi balik arahnya setelah melakukan analisis fundamental dan teknikalnya maka alternatif yang bisa dilakukan yakni melakukan average down. Average down adalah pembelian secara bertahap ketika saham yang dimiliki mengalami penurunan. Jika keputusan ini yang diambil maka trader tinggal menunggu dan berharap market kembali naik. So, butuh yang namanya kesabaran dan nggak terpengaruh emosi secara berlebihan.
Untuk tetap mengambil caun dalam trading kamu harus konsisten dengan strategi yang digunakan, melakukanya berulang-ulang, dan tetap konsisten seperti mengambil keuntungan ataupun menutup dengan kerugian yakni take profit atau cut loss. Hingga pada akhirnya kamu dapat mendulang cuan.
SIMAK JUGA: Tip Cerdas Memilih dan Membeli Saham-Saham IPO yang Berpotensi ARA
The post Tip Investasi dan Trading Saham Saat Market Sedang Rontok appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Kenali Support dan Resistance Saham, Emangnya Buy, Sell dan Hold Itu Gampang? appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Secara khusus di dalam analisis teknikal, investor atau trader menganalisis pergerakan harga saham melalui chart di masa lalu untuk menentukan pergerakan harga di masa yang akan datang.
Nah, saat berkutat dengan chart inilah, seorang investor atau trader pasti akan mengalami saat yang tidak mudah dalam membuat keputusan untuk buy, sell atau hold atas saham yang diincar atau dimiliki.
SIMAK JUGA: Inilah 10 Sekuritas Terbaik Berdasarkan Total Nilai (Value) Trading Terbanyak 2021
Oleh sebab itu, seorang investor atau trader yang cerdas wajib paham yang namanya support dan resistance. Dengan mengetahui titik support atau resistance yang tepat maka investor atau trader bisa membuat keputusan yang tepat.
Support adalah level harga dimana harga seakan-akan akan tertahan dan tidak akan jatuh lagi lebih dalam. Kondisi ini memicu dan menarik untuk melakukan aksi beli. Pemilihan support dilakukan dengan menarik garis horizontal pada titik harga saham terendah lalu harga kembali naik.
Resistance sendiri kebalikan dari support dimana level harga seakan-akan sudah mencapai titik tertinggi, cenderung tidak naik lebih tinggi lagi dan cenderung turun sehingga memicu aksi jual. Pembuatan resistance dilakukan dengan menarik garis horizontal pada titik harga saham tertinggi kemudian berbalik turun. Aksi jual ini biasanya untuk profit taking.
Lantas strategi investasi/trading apa yang harus dilakukan setelah tahu support dan resistance dengan baik di saat market sedang uptrend? Tentu saja investor atau trader bisa melakukan posisi buy (beli) dan melakukan aksi sell (jual) saat harga sudah menembus level support.
SIMAK JUGA: Inflasi “Pencuri” Uang Kita di Tabungan
Selanjutnya jika dihadapkan pada kondisi market yang sedang downtrend maka investor atau trader sebaiknya melakukan aksi jual (sell) dan bersiap untuk membeli lagi jika sudah ada support untuk berbalik naik lagi.
Sementara itu pada market yang sedang sideway maka sebaiknya investor atau trader memilih wait and see sembari menunggu kepastian arah pergerakan harga.
Namun perlu dicatat baik-baik kalau support dan resistance bukan satu-satunya tools mujarab yang otomatis pegangan investor atau trader untuk melakukan aksi jual-beli.
Dalam beberapa kasus bila tekanan beli atau jual tidak terlalu besar, meskipun titik support atau resistance dapat terlampaui, harga saham toh dalam rentang support-resistance semula. Oleh karena itu, investor atau trader wajib cermat dalam melakukan analisis teknikal.
SIMAK JUGA: Saham Kamu Kena Suspensi? Begini Cara Jualnya
The post Kenali Support dan Resistance Saham, Emangnya Buy, Sell dan Hold Itu Gampang? appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Menghadapi Saham Uptrend, Downtrend dan Sideways? appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Tak hanya makanan, pakaian, minuman, trend juga dikenal dalam pergerakan harga saham. Makanya, di dunia investasi atau trading saham juga dikenal istilah tren.
Secara konkret dalam kaitan dengan pergerakan harga saham, ada 3 (tiga) jenis tren yang ada dalam pasar saham. Ketiganya adalah uptrend, downtrend dan no trend atau sideways.
SIMAK JUGA: 3 Langkah Ini Wajib Dijalankan Trader Saat Menghadapi Saham yang Sedang Downtrend
Lantas apa yang harus dilakukan investor jika menghadapi kondisi tersebut, mari kita ulas satu-satu trend tersebut:
Uptrend (tren naik) dipahami dalam konteks pergerakan saham merujuk pada grafik saham yang terus bergerak naik. Sekalipun ada gerakan turun, tetapi secara umum bila dilihat secara garis besar atau dengan horison yang lebih luas arahnya terus bergerak naik. fluktuasi kecil alias riak-riak itu sesuatu yang normal, tetapi secara umum trennya naik terus. Jadi, meski ada penurunan, tetapi kecenderungan pergerakan harganya semakin lama semakin naik. Saham-saham yang uptrend begini yang justru harus dibeli atau diakumulasi sehingga di masa mendatangkan memberikan cuan atau capital gain yang bagus. So, beli saham, tentu wajib hukumnya beli yang dari sisi chart sedang uptrend.
Downtrend (tren turun) tentu saja kebalikan dari uptrend. Pergerakan saham yang sedang downtrend artinya grafik saham memperlihatkan pergerakan harga yang terus menurun. Sama halnya dengan uptrend yang ada fluktuasi, tetapi secara garis lebih besar pergerakan sahamnya terus menurun. Dengan kata lain, meski ada pergerakan naik turun. Jika melihat saham downtrend sebaiknya saham yang begini dihindari karena di masa mendatang tidak memberikan harapan cuan atau capital gain. Yang justru dialami bisa jadi malah capital loss atau kerugian. Kendati demikian, jika kamu selaku investor yakin secara fundamental di masa mendatang saham ini akan rebound maka tak ada salahnya mengakumulasinya. Untuk keputusan yang ini harus benar-benar yakin berdasarkan analisis fundamental dan teknikal alias tidah hanya berdasarkan asumsi semata.
Berbeda dengan uptrend dan downtrend, no trend yang juga disebut sideways atau stabil atau tren mendatar dipahami sebagai kondisi saham yang tak bergerak signifikan naik dan tidak pula signifikan turun. Artinya, pergerakan saham tersebut tidak semakin naik, juga tidak semakin turun alias datar-datar saja. Dengan kata lain, harganya segitu-segitu saja alias nggak kemana-mana. Kalau pun ada pergerakan naik-turun hanya dalam range tertentu saja. Harga tidak membentuk puncak dan lembah harga yang baru alias bergerak di suatu range atau level harga tertentu. Dihadapkan saham dengan kondisi yang demikian ini, sebaiknya investor wait and see saja dan nggak usah melakukan aksi jual atau beli. Toh, jumlah saham lain yang bisa ditransaksikan dengan tren yang lebih bagus selain saham tersebut juga masih banyak.
SIMAK JUGA: Tip Cerdas Memilih dan Membeli Saham-Saham IPO yang Berpotensi ARA
Nah, setelah tahu tiga jenis tren pergerakan saham ini, saatnya seorang investor atau trader mengaplikasikan prinsip jual-beli sahamnya. Prinsip utama yang pasti dipegang dalam investasi atau trading saham adalah membeli saham di harga tertentu dan menjualnya di harga yang lebih tinggi dari harga beli tersebut.
Prinsip yang wajib dipegang investor atau trader dalam investasi atau trading saham yang notabene ingin mencari cuan tentu buy low sell high atau buy high sell higher.
Dengan berpegang pada prinsip ini tentu saja saham-saham yang dicari adalah saham-saham yang uptrend. Nah, untuk melihat saham-saham yang uptrend tentu saja dibutuhkan charting yang mumpuni. Dalam hal ini investor butuh ilmu tentang charting yang mendalam yang saat ini bisa dipelajari dengan mudah secara online dan mandiri. Pelatihan-pelatihan gratis di sekuritas juga sudah banyak.
SIMAK JUGA: Sudah Siap Alami Penyesalan Demi Penyesalan dengan Investasi Saham?
The post Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Menghadapi Saham Uptrend, Downtrend dan Sideways? appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Tip Cerdas Memilih dan Membeli Saham-Saham IPO yang Berpotensi ARA appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Saat melantai pertama kali di pasar bursa, ada saham IPO yang bisa langsung ARA (Auto Reject Atas), tapi tak dipungkiri ada saja saham IPO yang justru lansung ARB (Auto Reject Bawah) alias jeblok.
Saham yang akan menjadi penghuni baru di bursa memang penuh pertaruhan dan pasar memainkan perannya yang cukup besar. Jika pasar menyambut dengan antusias maka saham IPO bisa saja ARA hingga beberapa hari, tetapi jika pasar tidak berkehendak maka begitu melantai bisa langsung terjun bebas kena ARB.
SIMAK JUGA: Ini Lho Langkah Mudah Ikut e-IPO Bursa Efek Indonesia (BEI)
Jadi tidak ada kepastian bahwa saham-saham IPO pasti mendatangkan cuan dan ARA begitu melantai. Oleh sebab itu, ada baiknya memperhatikan beberapa tip memilih saham-saham IPO biar bener-benar mendatangkan cuan.
Prospektus biasanya diterbitkan sebelum perusahaan melakukan go public yang berisi histori usaha, sektor usaha, prospek bisnis yang digeluti emiten, bahkan laporan keuangan perseroan secara detail. Cermati dengan teliti apakah sektor usaha perusahaan yang akan IPO ini memiliki prospek bagus di masa depan.
Setiap perusahaan yang akan IPO biasanya memiliki tujuan. Tujuannya ada yang butuh dana segar untuk ekspansi bisnis, namun ada pula yang butuh suntikan dana untuk bayar utang. Nah, jika IPO untuk mendapatkan dana segar supaya bisa meningkatkan pendapatan baru maka sahamnya menarik untuk dimiliki. Namun jika tujuan IPO hanya sekadar untuk bayar utang maka tentu saja prospek ke depannya bisa jadi kurang menarik.
Sebelum memilih saham-saham IPO, ada baiknya melakukan analisis secara fundamental, mulai dari price earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) untuk melihat valuasi saham berdasarkan besaran laba yang dicatatkan perusahaan dan nilai ekuitas dalam laporan keuangan perseroan setiap kuartalnya. Keuangan yang kuat memiliki prospek bagus di masa depan.
Setelah memiliki incaran saham IPO maka langkah selanjutnya adalah memesan sahamnya yang sudah gampang dilakukan secara online di sekuritas yang dipilih.
SIMAK JUGA: Saham Kamu Kena Suspensi? Begini Cara Jualnya
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Tip Cerdas Memilih dan Membeli Saham-Saham IPO yang Berpotensi ARA appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>