Begini Cara Menganalisis Fundamental Saham Secara Indepth dan Komprehensif

Analisis Fundamental Saham
Analisis Fundamental Saham (EduFulus/GWK)

The Path To Financial Freedom, EduFulus.com  – Memilih saham yang terbaik itu gampang-gampang susah dan biasanya dibutuhkan 2 (dua) analisis yang umum dikenal, yakni analisis fundamental dan teknikal. Secara komprehensif, kali ini akan diulas secara indepth dan komprehensif apa itu analisis fundamental dan rasio apa saja perlu ditelaah.

Analisis fundamental adalah suatu analisis yang mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan kondisi keuangan suatu perusahaan dengan tujuan mengetahui sifat-sifat dasar dan karakteristik operasional dari perusahaan.

Dengan kata lain, analisis fundamental ini menelaah sehat tidaknya sebuah perusahaan sebagai dasar dalam aksi membeli atau menjual saham. Kondisi perusahaan ditelaah sedemikian rupa untuk menentukan layak tidaknya sahamnya dibeli atau dijual.

SIMAK JUGA: Apa Itu Trading Halt? Corona (Covid-19) Bikin Rontok IHSG dan Harga Saham di 2020

Menariknya, kendati analisis ini fokus ke suatu emiten tertentu, tetapi sejatinya perlu pendekatan yang komprehensif tak melulu di seputaran internal emiten yang diincar.

Pakar investasi saham biasanya menyebut pendekatan komprehensif ini dengan istilah pendekatan “Top-Down“. Istilah top-down ini menelaah emiten dari skala paling luas (makro) hingga skala paling kecil yang mengerucut ke kondidi perusahaan (mikro). Tiga pilar dalam pendekatan komprehensif ini adalah analisis makro ekonomi, analisis industri, dan analisis mikro perusahaan.

  1. Analisis makro ekonomi menelaah kondisi perekonomian secara umum (dunia dan nasional) dan pengaruhnya di waktu yang akan datang. Penting diperhatikan dalam analisis makro ekonomi ini apakah kondisi ekonomi memang sedang tumbuh. Hal ini penting karena kondisi ekonomi suatu negara yang sedang tumbuh biasanya sejalan beriringan dengan pasar saham yang sedang bullish. Begitu juga saat kondisi ekonomi suatu negara terpuruk, pasar saham juga biasanya ikut terpuruk. Oleh sebab itu, di dalam analisis makro ekonomi ini penting pula menelaah PDB (Produk Domestik Bruto), inflasi, tingkat bunga hingga fluktuasi nilai tukar rupiah.
  2. Analisis industri menelaah sektor industri mana saja yang berpeluang tumbuh dalam kondisi perekonomian tertentu. Perlu disadari bahwa pada dasarnya tidak semua sektor industri itu tumbuh dalam kecepatan yang sama dalam kondisi ekonomi tertentu. Kemampuan menentukan dan memilah-milah sektor industri yang memiliki pertumbuhan signifikan berpotensi mendatangkan cuan atau profit besar. Selain beriringan dengan kondisi pertumbuhan ekonomi suatu negara, pertumbuhan industri di suatu negara pada dasarnya masih dipengaruhi oleh regulasi atau peraturan pemerintah. Oleh sebab itu, mencermati sejumlah regulasi untuk melihat potensi pertumbuhan industri itu sangat penting. Cermati dengan seksama apakah regulasi yang ada menghambat atau mendukung pertumbuhan sektor industri.
  3. Analisis mikro perusahaan menelaah kesehatan keuangan perusahaan. Sehat tidaknya keuangan perusahaan dapat dicermati dari laporan keuangan yang dikeluarkan. Biasanya laporan keuangan ini mencakup 3 (tiga) hal yakni, income statement (laporan rugi laba), balance sheet (neraca), dan cash flow (laporan arus kas).

Sesuai dengan namanya, laporan laba rugi mencerminkan posisi laba rugi perusahaan, sementara neraca mencerminkan aset (harta) dan kewajiban (utang) yang harus dibayar perusahan, dan laporan arus kas mencerminkan alokasi dana perusahaan itu untuk apa saja.

SIMAK JUGA: Siapa Bilang Investasi Saham itu Gratis? Berikut ini Rincian Biayanya

Selanjutnya, untuk menilai dan menakar kesehatan keuangan perusahaan publik, investor tinggal mencermati rasio keuangannya. Rasio keuangan (rasio finansial) ini biasanya sudah terpampang di profil emiten di trading platform setiap sekuritas. Rasio mempermudah investor dalam memilih saham mana yang layak dibeli secara fundamental.

Rasio finansial yang dimaksud mulai dari EPS (Earning per Share), PER (Price Earnings Ratio), PBV (Price to Book Value), ROE (Return on Equity), dan DER (Debt to Equity Ratio). Mari kita simak satu per satu:

  1. EPS (Earning Per Share)
    Perusahaan publik yang konsisten menghasilkan laba memang layak dikoleksi sahamnya. Dengan kata lain, menghindari dan menjauhi emiten yang merugi adalah langkah cerdas dalam investasi saham. Rasio EPS ini efektif melihat besarnya laba perusahaan per saham. So semakin besar angka EPS berarti laba perusahaan semakin baik. Namun demikian, EPS yang tinggi tidak selalu mencerminkan laba perusahaan yang besar karena hal itu juga bisa dipengaruhi oleh sedikitnya jumlah saham yang beredar. Namun selain EPS, sangat disarankan untuk membandingkan dengan rasio analisis fundamental lainnya. Adapun rumus Earning Per Share = (Laba bersih – Pajak – Dividen)/Jumlah Saham Beredar.
  2. PER (Price Earnings Ratio)
    Sebagai turunan dari EPS, PER menunjukkan perbandingan harga saham sekarang dengan laba bersih perusahaan per lembar sahamnya (EPS). PER ini penting karena memberikan informasi terkait nilai wajar suatu perusahaan. PER yang rendah kerap memikat investor untuk segera mengoleksinya karena PER yang rendah menunjukkan laba yang tinggi bila dibandingkan dengan harga sahamnya. Adapun rumus PER = Harga Saham Terakhir/EPS. Rasio yang menunjukan seberapa menghasilkannya saham yang kamu miliki, misalkan kamu beli saham A harganya 1.000 rupiah perlembar, dalam setahun dalam 1 lembar saham menghasilkan keuntungan (Earning Per Share) 100 rupiah, maka PERnya 10 kali. Semakin kecil PER semakin bagus karena akan semakin cepat balik modalnya, PER ini juga akan menentukan seberapa besar dividen yang kamu dapat lho, tetapi kebijakan membagi dividen tetap pada Rapat Umum Pemegang Saham.
  3. PBV (Price to Book Value)
    Investor yang cerdas akan memadukan penggunaan PBV untuk menentukan nilai wajar sebuah saham dengan rasio lainnya seperti PER. Pada dasarnya, PBV juga ditujukan untuk menentukan nilai wajar suatu saham. Adapun rumus PBV = Harga Saham Terakhir/Nilai buku per lembar sahamnya. Book value adalah nilai ekuitas per lembar sahamnya. Rasio ini menentukan seberapa mahal harga sahamnya, jadi harga yang kamu lihat itu adalah harga yang terbentuk oleh pasar karena faktor supply and demand. Sedangkan perusahaan juga memiliki harga buku perlembar yang berasal dari modal perusahaan terkini dibagi jumlah saham beredar, nilai PBV didapat dari harga saham dibagi BVPS (Book Value Per Share). Semakin tinggi PBV semakin mahal, tetapi tidak selamanya itu jelek, karena biasanya perusahaan yang memiliki performa bagus dihargai lebih tinggi dari harga bukunya, oleh sebab itu kita perlu perhatikan rasio keuangan lainnya.
  4. ROE (Return on Equity)
    Perusahaan yang asal menghasilkan laba saja tidak cukup. Emiten yang layak dikoleksi sahamnya yaitu perusahaan yang juga memiliki laba yang tumbuh. Untuk menilai pertumbuhan laba ini, rasio keuangan yang biasa digunakan adalah ROE. Secara historis, perusahaan yang menguntungkan adalah perusahaan yang memiliki ROE tinggi. Investor yang cerdas tentunya memilih perusahaan yang memiliki ROE yang tinggi. ROE tinggi mencerminkan keefektifan suatu perusahaan dalam mengelola modalnya sehingga bisa menghasilkan laba yang besar. Adapun rumus ROE = Laba bersih/Total Ekuitas. Rasio yang mengindikasikan seberapa produktif perusahaan kamu, biasanya tersaji dalam persentase, mengindikasikan persentase laba bersih dibanding modal yang dimiliki, semakin tinggi semakin bagus, misalnya ada perusahaan dengan ROE 20 persen, artinya dengan modal yang ia miliki, mampu menghasilkan laba bersih sebesar 20 persen dari modalnya.
  5. DER (Debt to Equity Ratio)
    Memiliki utang besar itu beban. Begitu juga dengan emiten yang memiliki utang besar punya kewajiban membayar bunga dan pokok utangnya. So, mengetahui rasio total utang dihadapkan dengan total aset perusahaan itu sangat penting. Jangan sampai investor terjebak membeli saham dari perusahaan yang memiliki utang besar. Nah, untuk mengecek utang perusahaan bisa digunakan rasio DER. Nilai DER rendah berarti perusahaan tersebut sehat. Adapun rumus DER=Total Utang/Total Ekuitas. Utang yang tinggi memiliki konsekuensi berupa beban bunga yang lebih tinggi serta kewajiban untuk membayar hutang pokok apapun kondisi perusahaannya. Semakin kecil DER semakin bagus, namun ada perusahaan yang memang dari karakteristik bisnisnya memiliki utang tinggi seperti perusahaan perbankan, untuk mencari yang terbaik bandingkan satu perusahaan dengan perusahaan perbankan lain.

Rasio-rasio dalam analisis fundamental yang biasanya sudah tersedia di trading platform masing-masing sekuritas ini sangat membantu investor dalam menganalisis suatu perusahaan tanpa perlu membaca laporan keungannya satu per satu alias njelimet. Rasio keuangan membantu investor memilih saham yang benar-benar bakal mendatangkan cuan. (GWK)

SIMAK JUGA: Jasa Penulisan Artikel Pasar Modal Terpercaya




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*