Beralih dari Saving ke Investment Society

Investor Muda
Investor muda (EduFulus/Ist)

The Path To Financial Freedom, EduFulus.com – Kita tentu bersyukur masyarakat kita gemar menabung. Sayangnya, banyak dari kita masih terjebak dengan paradigma lama tentang konsep menabung. Konsep menabung masyarakat pada umumnya masih sebatas menitipkan uang di bank untuk dijaga atau disimpankan. Tak jarang pula konsep menabung begini sifatnya hanya untuk jangka pendek. Kalau pun sifatnya untuk jangka panjang, ternyata hanya sedikit masyarakat yang paham betul kalau cara menabung mereka selama ini sebenarnya justru merugikan. Bunga kecil, inflasi tinggi.

Konsep menabung dengan cara baru pun digaungkan sejak 2013 lalu oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menelurkan gagasan rekonstruksi cara pandang masyarakat dari saving society ke investment society.

OJK berusaha menjalankan beberapa langkah strategis untuk mengubah cara pandang masyarakat terkait tabungan dari orientasi jangka pendek ke orientasi investasi jangka panjang. OJK ingin mengubah paradigma saving ke investment.

SIMAK JUGA: Yuk, Kenali Bencana Keuangan di Masa Depan Ini

Tepat pada 12 November 2015 muncul pengertian baru yang dilekatkan pada kata “Nabung”. Nicky Hogan dalam bukunya “Yuk Nabung Saham. Selamat Datang, Investor Indonesia!” (Elex Media Komputindo: 2017) menyebut hari itu sebagai hari yang bersejarah dimana Bursa Efek Indonesia mengkampanyekan gerakan “Yuk Nabung Saham”.
Hogan mengapresiasi pemilihan kata “Nabung dan bukannya kata “Investasi” atau “Main”. Kata investasi melahirkan kesan mahal, butuh uang banyak dan hanya bisa dinikmati mereka yang berduit. Selain itu, kata investasi juga terkesan rumit dan identik dengan orang-orang berpendidikan.

Apresiasi Hogan ini cukup beralasan karena nabung saham itu kini memang makin terjangkau. Hanya dengan modal sebesar Rp. 100.000 seperti yang ada di IPOTGO dari IndoPremier, masyarakat kini sudah bisa mencicipi dan menikmati keuntungan “menabung” saham.

Bukan kata “Investasi”, bukan pula kata “Main” atau “Bermain”. Kata “Main” dan “Bermain” yang lantas dilekatkan dengan kata “Judi” jelas menjadi paham yang menyesatkan. Nabung saham itu jauh dari spekulasi. Tak layak rasanya mengalamatkan kata pemain saham untuk investor yang berpikir jangka panjang alias berbeda dengan mereka yang masuk kategori “sumbu pendek” sehingga suka menjadi spekulator untuk saham-saham gorengan. Tapi entah mengapa, masyarakat dan bahkan sejumlah pelaku di pasar modal banyak yang hingga kini masih terjebak menggunakan kata “Main” atau “Bermain”.

SIMAK JUGA: Jasa Penulisan Artikel Pasar Modal Terpercaya

Nabung saham bukan gerakan yang gampang dan bisa dengan cepat terukur tingkat keberhasilannya. Tapi setidaknya, pada 2016 lalu ada 100.000 investor baru atau meningkat lebih dari 20%. OJK tak berhenti di situ saja, pada 31 Okrober 2016, mereka meluncurkan kampanye “Ayo Menabung” dengan dukungan Presiden Jokowi. kampanye ini berkesinambungan dengan kampanye lain seperti “Ayo Investasi di Reksa Dana dan “Yuk Nabung Saham”.

Dampak dari kampanye-kampanye ini pun mulai terasa dengan hasil survei nasional literasi dan inklusi keuangan (SNLKI) yang menyebutkan indeks literasi keuangan Indonesia pada 2016 sudah naik sebesar 7,72% menjadi 29,66% dibandingkan dengan 2013 yang sebesar 21,84%. Selain itu, untuk indeks inklusi keuangan Indonesia pada 2016 naik 8,08% menjadi 67,82% dibandingkan dengan 2013 yang sebesar 59,74%.

Dengan upaya yang masif, sinergi dan kolaboratif, bukan tidak mungkin Investment Society yang selama ini dicita-citakan sejumlah pelaku ekonomi akan tercipta. Benar bahwa mengubah mindset generasi tua lebih susah dibanding dengan generasi millenial yang memang gadget oriented. Biarlah generasi sebelum millenial berlalu dan habis maka Investment Society akan lahir.

Ini bukan soal blok dan aliran, tetapi soal bom waktu kesadaran. Pelan tapi pasti, masyarakat akan terbuka bahwa cara pandang dalam mengelola keuangan ala Saving Society ini sudah usang. Sudah saatnya masyarakat berubah dari konsep dan cara pandang saving menuju investment. (GWK)

SIMAK JUGA: Siapa Bilang Investasi Saham itu Gratis? Berikut ini Rincian Biayanya




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*