Tip Mengeruk Cuan Window Dressing Saat Akhir Tahun

Window Dressing
Window Dressing (EduFulus/Ist

The Path To Financial Freedom, EduFulus.com  – Di pasar modal dikenal istilah window dressing. Istilah ini dipahami sebagai saat manajer investasi (fund manager) untuk mempercantik tampilan portfolio atau performa laporan keuangan, biar terlihat kece dan terpercaya di nasabah.

Fenomena window dressing biasanya terjadi pada akhir kuartal saat perusahaan-perusahaan merilis laporan keuangan kuartalan, tepatnya pada bulan Maret, Juni, September dan Desember. Namun, dampak window dressing justru akan terasa pada bulan-bulan setelahnya, yaitu April, Juli, Oktober dan Januari.

Window dressing yang paling signifikan terjadi pada akhir tahun, dimana biasanya harga saham akan menguat sampai bulan Januari yang dikenal juga dengan sebutan January Effect.

SIMAK JUGA: Apa Itu Window Dressing?

Fenomena window dressing secara tidak langsung menyebabkan kenaikan harga saham-saham unggulan. Manajer Investasi perusahaan akan berusaha meningkatkan nilai-nilai saham yang dimilikinya, sehingga penutupan tahun kinerja yang dikelola terlihat lebih baik.

Karena aksi ini dilakukan oleh hampir seluruh Manajer Investasi di seluruh dunia, maka pada akhir tahun pun indeks harga saham umumnya akan bergerak naik.

Kebanyakan saham-saham yang mengalami fenomena window dressing tergolong sebagai penggerak utama IHSG atau memiliki kapitalisasi besar. Efek window dressing biasanya ditandai naiknya sejumlah saham dengan kenaikan diatas 5 – 10% hanya dalam satu hari perdagangan bursa.

Tampilan kece alias catatan kinerja yang bagus memang menjadi salah satu cara melahirkan kredibilitas dan kepercayaan. Analis saham Ellen May mengibaratkan window dressing ini seperti wanita yang sedang mempercantik tampilan wajahnya menggunakan kosmetik atau gadis kecil yang mempercantik rambutnya dangan pita.

SIMAK JUGA: Apa itu Buyback Saham dan Seperti Apa Sih Mekanismenya?

Nah, jelang akhir tahun 2020 ini, mayoritas emiten bukan tidak mungkin bakal terdampak window dressing karena fund manager yang mempercantik diri dan menggenjot pencapaian target tahunan jelang tutup buku. Momen ini sudah selayaknya dimanfaatkan untuk mengerek cuan.

Apalagi, window dressing ini ternyata bukan sekadar mitos atau prediksi semata. Hal ini dibenarkan dengan fakta historis IHSG yang cenderung naik di akhir tahun. Menurut catatan IHSG, hanya pada Desember 1997 dan 2000 saja IHSG tidak menguat.

Begitulah, window dressing memang memberikan dampak penguatan yang bisa dirasakan hingga Januari. Harga-harga saham cenderung terkerek sangat besar atau biasa dikenal dengan istilah Santa Claus Rally atau December Effect, istilah yang diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh Yale Hirsch di Stock Trader’s Almanac pada 1972.

Momen window dressing tentu tak boleh dilewatkan begitu saja oleh para investor saham. Momen ini merupakan momen emas untuk menikmati cuan saham. Apalagi, dalam beberapa pekan terakhir ini harga-harga saham cenderung terkoreksi dalam karena pandemi Covid-19. Jadi banyak saham memang layak dikoleksi.

Membeli saham-saham yang selama ini cenderung turun dan menjualnya saat-saat window dressing adalah salah satu cara jitu menikmati cuan jelang akhir tahun. Kendati demikian, ketelitian dan kecermatan dalam membeli dan menjual saham sangat diperlukan agar tidak rugi

Nah, bagi investor yang ingin menikmati cuan saat window dressing di akhir tahun, mulailah investasi saham saat ini juga dan jangan menunda-nunda lagi. Investasi saham tidak sesulit dan serumit yang dibayangkan karena sudah sangat gampang yang serba online dengan smartphone di genggaman tangan dan sudah sangat terjangkau terkait modal yang dibutuhkan.

Kendati demikian, ada tip khusus untuk mengeruk cuan saat fenomena ini terjadi, yakni pastikan kecermatan dalam memilih saham. Biasanya nih, selain memilih saham-saham yang bakal menjadi pendorong utama indeks, tetap pertimbangkan faktor fundamental dan teknikal saham yang dipilih karena belum tentu saham yang mengalami window dressing pada tahun sebelumnya akan mengalami pola yang sama pada tahun ini atau saham-saham yang selama pandemi Covid-19 anjlok akan terkerek naik.

SIMAK JUGA: 5 Tip Trading Saham untuk Pemula dan Milenial




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*